Hana Byeol (capt. 1)



Yo PoV

Bebunyian guntur mulai terdengar dari luar kantor. Sejak dua jam yang lalu langit memang sudah kelabu, mungkin sedikit lagi akan turun hujan, pikirku sambil meneruskan laporan yang harus segera diserahkan kepada ketua tim. Kulirik lagi jam dingin ruangan untuk yang kesekian kalinya. Telah menunjuk pukul lima sore. Sejam lagi sudah waktu yang dijadwalkan untuk pulang bila tidak ada tugas yang diharuskan untuk segera selesai. Kuteguk secangkir kopi yang sudah tidak hangat lagi karena kubiarkan daritadi di samping laptopku, dan sedikit melonggarkan dari yang dari pagi rasanya seperti mencekik leher, kemudian kembali kugerakkan jejari ini di atas keyboard. Sudah bagian dari penutup laporan. Sepertinya tinggal beberapa menit lagi akan selesai, dan aku bisa pulang tanpa harus lembur semalaman nantinya.

“Sudah selesai, Yo?”

Suara seorang wanita yang mulai terbiasa di telingaku ini mengalihkan pandanganku beberapa saat, lalu kembali pada layar laptop. Namanya Jeong Hye Jin. Orang yang ketua tim tunjuk untuk membantuku sebagai karyawan pindahan. Ya, aku baru dipindahkan ke kantor pusat di Gangnam ini dua hari yang lalu. So far, ia wanita yang baik, murah senyum, dan perhatian. Mungkin jika dua tahun lalu aku telah mengenalnya, aku akan jatuh hati padanya. Untuk satu alasan aku tidak bisa melihat wajahnya lebih dari lima detik. Kecantikannya membuat banyak pria di kantor ini selalu menawarinya pulang bersama.

“Ye? Sedikit lagi. Aku bisa pulang lebih dulu jika tugasku sudah selesai, bukan?” Tanyaku masih fokus.

Kini ia berdiri tepat di depan meja kerjaku sambil bersandar dan melipat kedua tangannya di depan dada. “Tentu. Apa setelah itu kau ada jadwal?” Ia tersenyum ketika aku melihatnya sekilas.

“Pria muda sepertiku pastinya selalu punya jadwal untuk dilakukan.” Balasku sambil melemparkan senyum yang menyimpan maksud.

Ia mengangkat kedua bahunya, lalu beranjak pergi. Namun ia berhenti dan bergerak kembali ke arahku. Yang membuatku terkejut, ia meraih dasi yang tadi kuregangkan dan membenarkannya. Lagi ia tersenyum. “Kau harus tetap terlihat rapi ketika berada di kantor.” Katanya lalu pergi. aku mengintipnya dari balik laptopku dan memastikan bahwa ia benar-benar sudah pergi. Namun justru pemandangan lain yang kulihat. Para karyawan yang berada di ruangan ini semuanya beralih melihatiku dengan pandangan tidak percaya. Kuteguk kembali kopiku.

Laporan telah selesai. Print-out akan kuserahkan ke ketua tim besok pagi. Kurapikan semua barang-barang yang ternyata daritadi terlihat tidak tertata rapi di atas meja kerjaku. Kuraih ponselku dari saku celana dan mengirimkan pesan singkat kepada seseorang.

Aku akan pulang cepat hari ini. Tunggu aku Y

“Hey, Kim Young Jun! Dimana ketua tim?” Tanyaku kepada rekan setimku yang baru saja tiba di meja kerjanya.

“Ng? Oh, sedang ada pertemuan ketua tim dengan direktur di ruang rapat lantai tiga.”

“Ah ya. Gomawo!”

Kuraih kunci mobilku dan beranjak keluar ruangan Gangnam adalah tempat baru bagiku. Ini hari kelimaku di daerah yang mempunyai distrik yang dijuluki Beverly Hills-nya Korea Selatan. Masih asing. Kalau kata seseorang yang kupanggil Byeol. Kita harus segera membiasakan diri agar tidak terus-terusan menjadi orang asing di tempat yang asing. Lagipula ini masih di Korea Selatan, jadi semuanya tidak terlalu jauh berbeda dari kota asalku, Busan. Aku dipindahkan ke Seoul karena kualitas kerjaku yang katanya meningkat. Berat rasanya untuk meninggalkan kota penuh kenangan itu. Juga, aku harus meninggalkan ibuku sendiri di sana. Appa[1] telah tiada ketika aku akan memperkenalkan Byeol-ku kepadanya dua tahun lalu. Adikku satu-satunya, Kang Bo Min sedang sedang mengambil gelar master di Universitas Kyung Hee, Seoul.
Hujan mulai turun satu-persatu. Orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar mulai berlarian mencari tempat berteduh. Kupercepat laju mobil melawan hujan yang mulai deras menembus lalu-lintas yang sepi.

Seseorang dengan payung berwarna kuningnya segera keluar membukakan gerbang rumah ketika aku tiba dan membunyikan klakson mobil.

“Kau baik-baik saja?” Tanyanya menyambutku ketika aku baru keluar dari mobil. Senyumnya yang manis ini-lah yang membuatku selalu ingin pulang lebih cepat. Setiap ia tersenyum, bibirku seperti terhipnotis untuk balas tersenyum.

“Hm. Kau menungguku?”

Ia mengangguk dan memeluk lengan kiriku memasuki rumah.

“Hari ini wangi kau berbeda, Byeol?” Kami merebahkan tubuh di sofa ruang tengah.

“Hahaha. Ibumu baru saja mengirimi kita paket. Di dalamnya ada sabun ini, dan aku tertarik dengan wanginya. Kau suka?” Ucapnya sambil melepaskan dasiku.

“Tentu.” Aku tersenyum. “ Apapun dalam hidupmu, aku sangat menyukai semuanya.”

Ia tersipu malu. Wajahnya memerah, dan semakin cantik. “Mau kubuatkan the hangat?” Ia mengalihkan pembicaraan.

Aku mengangguk tepat di depan wajahnya dan kucolek hidungnya sebelum ia beranjak ke dapur.

“Mandi-lah dulu, handuk dan pakaianmu sudah kusiapkan di kamar.”

***

Author PoV

Sebuah pesan masuk di ponsel Yo ketika ia masih berada di dalam kamar mandi. Byeol yang berada di dekat ponsel itu melirik. Rasanya ia ingin membukanya. Ia lihat pintu kamar mandi yang di dalamnya terdapat Yo yang sedang mandi. Tetapi hatinya menolak jika tanpa seizin sang pemilik. Lagipula baginya mungkin itu hanya urusan kantor dan klien. Tidak ada yang perlu ia khawatirkan jika memang begitu, bukan? Hingga pesan kedua masuk dari pengirim yang sama semakin membuatnya penasaran. Jika ada hal-hal yang penting, pasti orang akan langsung meneleponnya. Ia raih ponsel Yo, dan berhasil membuka kunci layarnya.

Jeong Hye Jin.

Yo Min-sshi. Apakah besok kau ada jadwal selepas dari kantor?

Jeong Hye Jin.

Aku baru saja berhasil melelang sebuah desain rumah kontemporer-modern dengan harga yang tinggi. Bagaimana jika aku mentraktirmu seorang untuk minum? Tolong kosongkan jadwalmu untuk beberapa jam ya.

Jeong Hye Jin? Beberapa pertanyaan muncul dari benak hati Byeol. Kenapa sepertinya mereka begitu dekat padahal Yo baru masuk kantor itu dua hari yang lalu? Kenapa ia hanya mengajak Yo seorang untuk minum? Yo bukan tipe orang yang suka hal-hal yang dapat merusak tubuhnya. Itu yang selama ini Byeol tahu. Sudah seberapa dekat mereka? Yo, bagaimana dengan kau? Tanyanya dalam hati.

Yo baru saja selesai mandi dan keluar dengan kaos oblong dan celana selututnya sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Byeol menatapnya dari sofa ruang tengan. Ia ingin sekali menanyakan semuanya. Tapi lagi-lagi akalnya memberhentikannya. Mungkin memang hanya urusan kantor.
Hanya suara dari televisi yang daritadi menemani Byeol menunggu Yo mandi yang terdengar. “Kau kenapa?” Tanyanya dengan tatapan bingung ketika masuk dari halaman belakang untuk menjemur handuk.  Wajah Byeol berubah dari yang tadi Yo lihat.

Byeol hanya menggelengkan kepala. “Minumlah tehnya selagi hangat.” Ia memaksakan diri untuk tetap tersenyum dan berlalu pergi ke kamar. Kali ini Yo tidak balas tersenyum. Ia mencoba membaca raut wajah Byeol. Tapi gagal. Byeol bukan tipe wanita yang selama ini mudah ia tebak. Walaupun usia pernikahan mereka sudah setahun lebih, Yo masih harus memahami keseluruhan dari kehidupan wanita yang ia cintai satu-satunya ini. Yo memang lelaki nakal ketika sekolah dulu. Kabur dari skeolah untuk bermain game online, tidur ketika jam pelajaran di kelas, hingga menggoda wanita-wanita di sekolah ketika jam istirahat. Parasnya yang tampan tidak akan membuat para wanita ilfeel kepadanya. Justru yang tadinya tidak pernah tertarik dengannya bisa jatuh hati. Anehnya, Yo belum pernah punya kekasih. Byeol adalah satu-satunya wanita yang berhasil menarik hatinya, hingga Yo berani untuk melamarnya satu setengah tahun yang lalu.

Yo membaringkan tubuhnya ke sofa dan mulai mencari-cari channel yang mungkin menarik dan meneguk teh hangat yang tadi Byeol buat. Pikirannya masih melayang ke masa lalu. Ia akui ia bukan orang yang pintar selama sekolah. Ia hanya mengungguli pelajaran eksak seperti Matematika dan Fisika saja. Selain pelajaran itu, ia masih di bawah teman-temannya yang lain. Ia pernah menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti olimpiade Matematika tingkat Internasional dan juara dua membuat penemuan dalam bidang Fisika tingkat kota. Yo mengumpulkan berbagai macam sertifikat piagam penghargaan. Dari itu-lah ia diterima di salah satu kampus ternama di negeri ini. Teknik Arsitektur Universitas Kyung Hee. Saat ia berada di semester enam, kampusnya menjadi tuan rumah dalam perlombaan badminton antar kampus. Yo hanya sebagai penonton, karena adiknya, Kang Bo Min menjadi salah satu peserta dalam pertandingan tersebut. Peserta lain yang menjadi lawannya adalah Min Hyo Rin, yang kini ia panggil Byeol. Apakah cara bermainnya yang bisa dibilang sangat elegan, tapi ketika itu juga Yo terpesona oleh Byeol. Selama pertandinganbahkan ia tidak bersorak untuk menyemangati adiknya. Ia hanya terpaku di kursinya, menikmati dengan tenang. Ketika waktu habis, Yo turun dari kursi penonton dan bergegas menuju ruang pemain untuk menemui adiknya. Atau juga untuk mencari Min Hyo Rin. Sejak saat itu, Yo selalu punya cara untuk sekedar melewati kampusnya Min Hyo Rin, Universitas Dong Guk setiap harinya dengan bersepeda. Barangkali ia menemukan Min Hyo Rin sedang berjalan sendirian di luar kampus.

Beberapa saat kemudian, ia mulai bosan dengan acara-acara televisi yang baginya kurang menarik untuk mengisi waktu luang. Ia pun menarik napas yang dalam sebelum beranjak ke kamar untuk menyusul Byeol. Perlahan ia membuka pintu kamar. Byeol sedang membersihkan sebuah album foto yang ukurannya cukup besar dari debu-debu. Bahkan hampir menyelesaikannya.

“Byeol, kau baik-baik saja?”

“Ya.” Singkat, namun menimbulkan pertanyaan.

“Benarkah?” Perlahan Yo memeluk tubuh Byeol yang setinggi dadanya ketika ia sedang duduk di pinggir tempat tidur.

Kali ini ia tidak menjawab. Suhu badannya dingin.

“Sudah malam. Ayo tidur.” Yo menarik perlahan lengan kanan Byeol yang lembut.

***

Yo PoV

Hari keempat aku bekerja di kantor baru. Suasana yang sama dari hari kemarin dan kemarinnya lagi. Masih dengan para pekerja sibuk yang tidak sedikit dari mereka membawa tumpukan-tumpukan kertas dan gulungan-gulungan yang cukup besar, juga beberapa pekerja wanita yang satu-persatu mulai menyapa kedatanganku. Aku sedikit heran kenapa mereka bisa mengenaliku dengan cepat? Oh ya, aku baru tersadar bahwa aku sedang menggunakan tanda nama di saku jas. Kang Yo Min.

“Hai, Yo! Selamat pagi.”
“Hai. Selamat pagi, Hye Jin-sshi.” Kutemukan sosok Hye Jin yang sudah berada di sebelahku yang sedang menunggu lift. Seperti biasa, tiga detik melihat, setelah itu selesai.

“Bagaimana kabarmu pagi ini?” Senyumnya masih belum luntur.

“Baik seperti biasanya.”

Pintu lift terbuka dan aku mempersilahkan Hye Jin masuk lebih dulu.

“Sepertinya kau masih merasa asing ya di sini? Dari gerankanmu ketika membalas sapaan para pekerja wanita tadi, masih terlihat kaku.” Aku merasa ia mulai memperhatikanku dari sudut lift.

“Benarkah? Hahaha. Aku hanya sedang membiasakan diri. Terkadang aku masih harus mengingatkan diri sendiri bahwa ini bukan kantorku sebelumnya. Sehingga harus tetap menjaga etika.” Keperhatikan angka pada sisi atas pintu lift. Masih tiga lantai lagi untuk menuju meja kerjaku, sedangkan suasana seperti ini tidak boleh terjadi terlalu lama. Bahkan terlalu sering. Sepertinya lift ini berjalan sangat lambat dari biasanya. Atau hanya perasaanku saja?

“Kau akan segera terbiasanya dengan sendirinya.” Sepertinya senyumnya tidak akan pernah luntur dihadapanku. Dia terlalu pemurah.

“Ya, itulah yang pernah seseorang katakan padaku.”

“Hmm.. Bagaimana dengan yang kemarin aku katakan? Kau benar-benar sudah mengosongkan jadwalmu malam ini, bukan?” Tanyanya yang tiba-tiba membuatku terbelalak.

“Ya? Jadwal?”

“Pesan yang kemarin kukirim ke ponselmu. Kau sudah membacanya, bukan?”

“Pesan?” Kata-katanya semakin membuatku bingung. Kurogoh saku celanaku untuk mengambil ponsel dan segera kubuka kotak masuk pesan. Oh ya. Ada dua pesan dari Hye Jin yang sepertinya belum kubaca. Hm? Namun pesannya sudah terbuka. Seseorang telah membukanya? Pesan masuk pukul setengah tujuh malam. Ini adalah waktu aku masih mandi. Tidak mungkin aku membuka pesannya ketika ngigau. Seingatku, ponsel ini kutinggalkan di sofa depan televisi ketika aku akan mandi. Lalu? “Byeol?” Gumamku pelan, tidak bermaksud agar Hye Jin mendengarnya.

“Kang Yo Min-sshi? Bagaimana?” Tanyanya mengembalikan kesadaranku dari kenyataan.

Pintu lift terbuka. Bagus! “Akan kupikirkan nanti.” Kami pun berpisah berlawanan arah karena ruangan kerja yang terpisah.

Inikah yang membuat ia memurungkan diri sejak tadi malam? Ah ya.. perlahan aku mulai mengerti jalan pikir istriku ini. Aku tidak kesal karena ia membuka ponselku bahkan pesan yang masuk tanpa sepengetahuanku. Aku mulai mengerti isi hatinya. Byeol memang bukan wanita yang mudah mengekspresikan segala emosionalnya. Namun jika lelaki menyadarinya, ia akan paham apa yang telah terjadi dan apa yang harus dilakukan. Oh Byeol, ini bukan sperti yang kau kira. Segera kuambil kembali ponselku dari dalam saku, dan mengiriminya pesan singkat.

Byeol, you’re the one and only. I really love you.

Kubuka laptopku dan mulai menyambungkannya dengan harddisk untuk memindahkan laporan yang kemarin telah kuselesaikan dan harus segera di-print sebelum ditagih oleh ketua tim. Ketika aku akan berdiri menuju ruang printer, sebuah pesan masuk memberhentikan langkahku. Dari Byeol.

You do what should you do, Yo-sshi

Oh terkadang ia berhasil membuatku harus berpikir lebih atas kata-katanya.

Waktu telah menunjuk pukul tujuh malam ketika aku baru saja keluar dari ruang rapat. Pertemuan dengan klien terkadang membuatku lupa akan waktu karena terlalu banyaknya permintaan. Ketika di di Busan dulu, tidak memakan waktu hingga dua jam, negosiasi dengan klien selesai. Walau prinsip dari kantor ini dan yang dulu sama, yaitu memuaskan hati klien, tetap saja waktuku di rumah semakin sedikit. Setiap lelah mulai datang, aku selalu teringat dengan aroma hangat dari teh buatan Byeol. Dari luar ia memang terlihat seperti wanita pada biasanya dengan penampilan yang sederhana. Tetapi ia memiliki sisi dalam yang luar biasa tidak bisa kuungkapkan dalam kata-kata. Wanita itu benar-benar. Kukirimkan pesan singkat kepada Byeol sebelum kembali ke meja kerja.

Aku baru selesai melakukan pertemuan dengan klien. Aku akan menyelesaikan beberapa urusan dengan desai yang akan dibuat oleh tim. Tunggulah, aku akan segera memelukmu Y

Sepertinya aku mulai melebih-lebihkan pembicaraanku kepada Byeol.

“Kang Yo Min, kau ada waktu?”

“Tentu.” Jawabku singkat sambil memasukkan laptopku ke dalam tas, bersiap untuk pulang.

“Baiklah. Ayo!” Hye Jin berlalu menuju lift.

“A..ayo?” Ah ya! Aku baru teringat oleh pesan itu. Pesan yang dikirimkan Hye Jin tadi malam. Oh bagaimana aku menolaknya? Bagaimana dengan Byeol? Oh God. Baiklah, sekali ini saja. Lagipula, aku sudah izin dengan Byeol untuk pulang terlambat. Aku pun mengikuti langkah kaki Hye Jin menuju tempat parkir.

“Aku yang menyetir?” Ia tersenyum dan mengulurkan tangan agar aku memberikan kunci mobilku kepadanya.

“Kau yakin?”

Ia mengangguk, dan kuserahkan mobil ini sepenuhnya kepada Hye Jin, karena ia-lah yang tahu tempat tujuan kami.

Beberapa saat suasana mobil menjadi sunyi, hanya kebisingan lalu lintas yang terdengar. Kuambil ponselku dari saku jas. Oh parah, baterainya habis. Benar-benar suasana yang membuatku mual. Kuberanikan diri untuk membuka pembicaraan.

“Sudah berapa lama kau bekerja di kantor itu?”

“Aku?” tanyanya menengok kepadaku dan segera mengalihkan pandangannya ke jalan raya. “Kira-kira dua tahun lebih sepertinya. Ada apa?”

“Ah, tidak.” Kembali sunyi diantara kami berdua hingga tiba di sebuah bar ternama di bilangan kota Seoul. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tempat macam ini. Namun yang menarik perhatianku, desain eksteriornya yang cukup eksotis.

“Ayo masuk.” Hye Jin meraih tangan kananku dan mengembalika kunci mobilku. Tidak hanya itu, ia juga menarik pelan tanganku untuk mengikutinya memasuki gedung yang benar-benar asing dalam hidupku. “Jangan kaku seperti itu.”

Suasana di dalam begitu gelap walau hanya diterangi dengan lampu-lampu berbagai warna, yang jika berlama-lama akan membuat mataku sakit. “Kau ingin apa?” Ia menyenggol tubuhku.

“Oh, Hye Jin-sshi. Lama tidak datang ke sini.” Sapa seorang pelayan bar begitu ia mendatangi meja kami.
Annyeong.” Sapa Hye Jin. Sepertinya mereka sudah saling kenal. Atau mungkin memang Hye Jin yang sering datang ke sini.

“Air mineral saja.” Jawabku.

“Kau serius?” Irama bertanyanya sedikit terdengar terkejut dengan tawa ringannya.

“Ya.”

“Kau mau soju, mungkin? Yang ringan. Aku yang traktir.”

“Tidak, air mineral saja.”

Pelayan itu berlalu begitu mencatat pesananku dan Hye Jin yang tidak kukenal namanya. Ia benar-benar berbeda dengan Byeol.

“Jadi, bagaimana perasaanmu setelah empat hari ini berada di kantor baru?”

“Hmm? Menyenangkan. Orang-orangnya begitu ramah, dan dapat bekerja sama dengan baik.”

“Bagaimana dengan klien-kliennya? Apakah ada perbedaan dengan orang-orang di kota lama mu?”

“Selera mereka benar-benar berbeda. Orang Seoul lebih memiliki selera yang tidak ingin meninggalkan unsur modern.”

Hye Jin tertawa mendengar opiniku yang kurasa ini normal dan tidak ada unsur humornya. Aku memperhatikannya dalam lima detik, lalu mulai meneguk segelas air mineral yang baru datang. Begitu juga Hye Jin sepertinya ia sudah terbiasa meminum ini. Lihatlah, dia begitu ringan mengalirkannya ke kerongkongan walaupun matanya terpejam ketika meneguknya. Seperti apa rasanya. Aku berjanji kepada ibu untuk tidak akan pernah meminum minuman keras seperti ini.

Sejam lamanya kami telah duduk di ruangan yang baunya begitu menyegat hidungku ini. Hye Jin tertidur dalam posisi duduknya. Aku baru menyadarinya karena daritadi aku hanya menyaksikan penampilan para musisi di atas panggung.

“Hye Jin-sshi, ayo kita pulang.” Kugerakkan tubuhnya dengan perlahan. Tidak ada tanggapan. Sepertinya ia benar-benar mabuk hingga tidak sadarkan diri seperti ini. “Hye Jin-sshi.”

Oh sial. Kenapa semua ini harus terjadi kepadaku? Apakah hanya aku yang dikenalnya diruangan ini? Aroma tubuhnya benar-benar mulai berubah. Kuraih tas sakunya, dan kukeluarkan kartu tanda pengenalnya dari dalam dompet. Apartemennya tidak jauh dari sini. Sebelum pergi, kuambil beberapa lembar uang dari dompetku untuk dibayarkan ke pelayan bar. “Terima kasih.” Ucapku dan akhirnya memberanikan diri merangkul tubuh Hye Jin dan membiarkannya terus bersandar hingga kami kembali ke mobil.

Kusandarkan ia di kursi mobil tepat di belakang kursi pengemudi. Orang-orang memang bisa kehilangan akal sehatnya ketika sudah mengonsumsi minuman berbahaya macam ini. Oh dia benar-benar berat.

Sebelum kuantarkan Hye Jin kembali ke apartemennya, kusempatkan untuk melewati jalan depan rumahku yang kebetulan tidak jauh dari tempat tadi. Lampu masih menyala dan pintu depan sedikit terbuka. Oh lihatlah siapa yang sedang duduk di kursi teras! Byeol sedang tertidur di sana. Aku harus memindahkannya ke kamar. Ah ya, makhluk yang sedang di belakangku sedang tertidur karena mabuk dan harus segera dikembalikan ke tempatnya. Kuurungkan niatku untuk membuka pintu mobil dan segera melaju.

“Hye Jin-sshi, kita sudah sampai di parkiran apartemenku. Bangunlah!” Kugoncangkan lagi badannya. Ia benar-benar tidak sadarkan diri. Kutarik napasku dalam-dalam dan membuangnya dengan kesal sebelum kuangkat tubuh Hye Jin ke punggungku lagi ke depan pintu apartemennya. Hingga kami sampai di depan pintu, ia baru sadarkan diri walaupun dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.

“Aku pulang sekarang. Istirahatlah. Sampai jumpa.” Ucapku sambil sedikit membungkukkan tubuhku sebelum kembali ke tempat parkir.

“Kang Yo Min-sshi.” Lenganku tertahan. Aku menoleh kepadanya. “Terima kasih untuk malam ini.”
Tambahnya dengan nada suara yang masih dalam keadaan mabuk dan langsung melepaskan lenganku.

***

Author PoV

Sudah hampir pukul sepuluh malam, Yo masih belum kunjung pulang juga. Jalanan depan rumah masih terlihat sepi. Sudah satu jam Byeol menunggunya di teras rumah, sudah berulang kali juga ia membuka ponselnya. Untuk kesekian kalinya, tetap tidak ada pesan atau pun panggilan masuk dari Yo. Kemana lelaki ini pergi? Pikirannya mulai tidak benar. Ia teringat dengan pesan singkat yang kemarin dibacanya di ponsel Yo. Apakah ia benar-benar menyetujui ajakan wanita itu? Sikap Yo mulai keluar dari yang biasanya Byeol kenal. Kini kedua matanya mulai mengantuk. Dengan susah payah ia tahan rasa kantuknya hingga ia dapat melihat Yo di hadapannya dalam keadaan baik-baik saja. Kali I ni matanya sudah tidak dapat lagi tertahan, dan pandangannya gelap semua. Ia tertidur di kursi teras ditemani hembusan angin malam yang sedikit membuat tubuhnya kedinginan.

Tepat pukul sebelas malam, mobil Yo berhenti untuk kedua kalinya di depan gerbang yang telah sedikit terbuka itu. Ia melihat Byeol yang masih tertidur di kursi teras dari dalam mobil. Ia pun segera memarkirkan mobilnya dengan perlahan ke dalam halaman rumah dan mengunci gerbang. Ia perhatikan tubuh Byeol yang sepertinya telah lama menunggu kepulangannya sambil menahan dinginnya angin malam. Oh Byeol. Tanpa rasa ingin membangunkannya, Yo segera menggendong Byeol masuk ke dalam rumah dan merebahkannya di tempat tidur kamar.

“Maaf, Byeol.” Gumamnya sebelum meninggalkan Byeol tidur sendiri di kamar. Yo beranjak ke kamar mandi dengan pakaian ganti yang telah digenggamnya. Byeol sedikit terbangun dari tidurnya. Ia mendapati pundak Yo yang mulai hilang keluar dari kamar. Lalu ia kembali terpejam.

Yo menatap dalam-dalam wajah lelahnya yang berada di cermin, yang ia akui seperti tidak ada bedanya dengan wajahnya sewaktu kuliah dulu. Ia tersenyum. Ntah apa yang sedang ada di pikirannya sekarang.

***

Author PoV

“Yo Min-sshi, sudah pagi. Ayo cepat bangun!” Byeol membuka gorden jendela kamar yang cukup besar dan membiarkan cahaya matahari pagi masuk menembus kamarnya dengan Yo.

Yo yang masih tertidur dalam keadaan tengkuran berbalut selimut mulai mengerjapkan matanya, menahan silau. Pandangannya masih menerawang, dan beberapa saat kemudian ia kembali tidur sambil menutupi kepalanya dengan bantal.

“Yo, ini hari minggu. Bersantailah.” Byeol meninggalkan kamar dan menuju dapur.

“Hari minggu?” Ucapnya di balik balik. Byeol tidak mendengannya. Hari yang bagus untuk menghabiskan waktu dengan Byeol. Ia langsung bergegas membuka lemari untuk mengambil pakaian casualnya dan masuk ke kamar mandi. Byeol yang melihatnya dari dapur dibuat heran.

Sepuluh menit kemudian, Yo keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang benar-benar segar untuk dilihat. Wangi sabun yang ia gunakan tercium hingga dapur.

“Hmm, ada yang wangi.” Godanya sambil mendengus ketika tiba di samping Byeol yang sedang masak.

“Ya kamu habis mandi, Yo Min-sshi.”

“Bukan. Tapi masakanmu. Hehehe.. Kau bangun pagi sekali.” Yo meraih sepasang sumpit untuk mencicipi masakan Byeol.

“Aku mencuci pakaian kotor kita dan menjemur di halaman belakang sebelum membangunkanmu. Yak! Keringkan dulu rambutmu! Tetesan airnya akan jatuh ke masakan.”

“Kau benar-benar manis.” Lagi-lagi Yo menggoda Byeol sebelum meninggalkannya. “Wah, kau membuat rebusan ayam dengan ginseng sepagi ini? Hebat..” Puji Yo. Ia telah duduk siap di kursi makan ketika Byeol datang dengan masakan utamanya.

“Makanlah. Lagipula ini hari libur pertamamu di Gangnam.”

“Hari ini kau punya rencana untuk menghabiskan waktu dengan lelaki tampan ini?” Yo menatapnya dengan alis yang terangkat dan senyum jahilnya.

“Rencana? Bagaimana kalau kau temani aku berbelanja untuk keperluan rumah tangga selama sebulan?” Usul Byeol sambil menuangkan sesendok demi sesendok rebusan ayam ke dalam mangkuk makan Yo.

“Ok, bukan ide buruk. Setelah sarapan kita akan pergi.” Yo mulai menyuap sarapannya. Masakan Byeol terasa lembuat di lidah dan langit-langit mulut Yo. Ia benar-benar menikmati setiap rempah-rempah yang terkandung dalam makanannya. Sempurna. Yo memang sangat menyukai olahan ayam dan hewan laut. Yo rasa ia adalah pria beruntung yang bisa mendapatkan Byeol. Di awal Yo memperhatikannya, ia termasuk wanita yang tidak banyak bicara dan tidak banyak tingkah. Gerak-geriknya yang berbeda dari yang lain membuat Yo tertarik kepadanya. Sejak bertemu Byeol, Yo tidak pernah lagi menggoda wanita-wanit yang dilihatnya. Byeol adalah satu alasan dari hilangnya semua sifat genit Yo. Byeol adalah tempat dimana Yo berhenti untuk waktu yang sangat lama.

Udara Gangnam masih terasa asing bagi Byeol yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Terutama hiruk-pikuk ibu kota negara, Seoul. Yo mendapati gerak-gerik Byeol yang masih canggung dengan ini-itu. Mall belum buka sepagi ini. Yo memberhentikan mobilnya di pinggiran sungai Han yang mengalir tenang.

Byeol terlihat kagum dengan keasrian sungai Han. Yo menikmatinya sambil bersandar ke mobil. Ia perhatikan dalam-dalam diri Byeol yang berada di sampingnya. Ia tarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan berat. “Kau menyukainya?” Tanya Yo.

“Sangat menyukainya.” Byeol tersenyum kepadanya, lalu memejamkan mata menghadap ke langit kota Seoul. Membiarkan rambutnya yang cukup panjang menari tertiup angin.

“Byeol, kau cantik sekali.” Yo masih menatapnya yang sedang menikmati atmosfer tepi sungai Han.

“Bukanhkah ini seperti biasanya?” Byeol balik menatapnya dengan senyuman yang manis seperti biasa.

“Tentu.” Yo menatap langit biru nan jauh di sana. Di atas gedung-gedung perkantoran yang tinggi menantang langit. Ia kembali menarik napas dan menghembuskannya. “Byeol..” Kali ini mereka saling bertatapan mata. Yo mendekatkan tatapannya ke wajah Byeol yang mulai memerah. Sinar matanya membuat Byeol membeku. Ia tidak dapat menenangkan detak janjung dan ekspresi wajahnya yang menjadi kaku. “Byeol..” kini wajah mereka hanya berjarak tiga centimeter.

(bersambung..)




[1] ayah

Komentar